//
you're reading...
Merenungi Keagungan Allah Swt, Pengetahuan, Tsaqofah Islam

7 Prinsip Dasar Surat Al-fatihah

Sobat, surat al-Fatihah adalah inti dari Al-Qur’an. Dan basmalah – Bismillahirrahmanirrahim- adalah inti dari surah Al-Fatihah!

( Dr. Wahbah Az-Zuhaily dalam kitab tafsirnya At-Tafsir,almunir fi al-’aqidah wa as-Syariah wa al-manhaj, meriwayatkan perkataan Ibnu Abbas ).

Ada dua belas nama surah al-fatihah, diantaranya ada tiga nama yang menguatkan kesimpulan Ibnu Abbas tersebut, yaitu fatihah al-kitab, Ummu al-kitab dan Ummu Al-Qur’an.

Al-Fatihah memang sebagai pembuka dan induk dari Al-Qur’an. Dan Al-Qur’an adalah sebagai prinsip hidup kita, maka sudah barang tentu dalam surah al-Fatihah ada prinsip hidup, termasuk untuk menggali dan melejitkan potensi diri.

Dalam sehari semalam, minimal kita membaca surah alfatihah 17 kali ketika sholat, tapi pernahkah kita memikirkan makna- baik tersurat maupun tersirat- yang terkandung di dalamnya? Mari sobat kita renungkan bersama makna yang tersimpan dalam surah al-Fatihah dan kita kaitkan dengan pembahasan tujuh prinsip melejitkan potensi diri .

1. Awali hari-hari kita dengan Basmalah.

Ayat pertama – Bismillahirrahmanirrahim – ( Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang ) – ini mengajarkan kepada kita, apa pun yang kita lakukan harus kita niatkan atas nama Allah dan berangkat dari kesadaran hubungan kita dengan Allah, sebelum melakukan sesuatu maka kita akan bertanya apakah ini halal atau haram, terpuji atau tercela ? Jadi standar perbuatan (miqyasul amal) adalah hukum syara’dan semata-mata karena Allah.

Semakin ikhlas niat kita maka semakin bermakna aktivitas kita. Sebaliknya, semakin jauh kita dari-Nya maka apa yang kita lakukan akan kehilangan makna.nah yang kita tanyakan kepada batin kita kali ini adalah niat kita ; Apa tujuan saya menggali dan melejitkan potensi diri? Dengarkan semua jawaban yang muncul dalam hati nurani, lalu tutup dengan sebuah pertanyaan ; ”Apakah saya melakukan hal ini karena Allah?” Bila nurani anda mengatakan, ”ya” dan tidak ada keraguan sama sekali mulailah melangkah dan ucapkan”Bismillahirrahmanirrahim”

2. Bersyukurlah, terimalah diri apa adanya.

Alhamdulillahi Rabbill’alamin ( segala puji hanya untuk Allah ). ”Iman itu,” sabda Nabi Muhammad SAW, ”Setengahnya berada pada syukur dan separuhnya lagi ada pada sabar.” Kita harus bersyukur terhadap nikmat dari Allah, yaitu berupa apa saja yang sesuai dengan apa yang kita inginkan. Sebaliknya, kita harus bersabar atas setiap musibah yang menimpa kita, yaitu apa saja yang tidak sesuai dengan yang kita inginkan. Selanjutnya kita harus mampu membedakan, mana yang bisa kita ubah, dan mana yang tidak bisa kita ubah dalam diri kita. Contoh yang bisa kita ubah adalah pikiran, perasaan, kebiasaan kita, dan setrusnya. Contoh yang tidak bisa kita ubah adalah kita dilahirkan di dunia ini tanggal dan tempat lahir kita apakah kita bisa milih, orang tua kita,semua pengalaman hidup kita, dan seterusnya. Maka ubahlah terhadap hal-hal yang bisa kita ubah! Sebaliknya, terimalah apa adanya yang tidak bisa kita ubah. Langkah praktis prinsip ini merenunglah sejenak! Gunakan kesadaran diri untuk melihat apa yang telah dan apa yang sedang terjadi pada diri anda. Lalu aktifkan ” suara nurani” dalam diri anda. Pelajari dan catatlah, mana yang bisa anda ubah, dan mana yang tidak bisa anda ubah! Dari data diri anda itu, gunakanlah apa yang anda bisa ubah sebagai bahan pelajaran untuk merubah diri atau melejitkan potensi diri. Bersyukurlah!!! Sedangkan yang tidak bisa anda ubah, maka abaikanlah! Dan Bersabarlah!!

Rasulullah SAW bersabda, ” Sungguh sangat mengagumkan, orang yang beriman.. segala urusannya adalah baik baginya. Dan itu terjadi, kecuali hanya pada orang yang beriman, jika ia mendapatkan nikmat, ia bersyukur. Maka itu merupakan kebaikan bagi dirinya. Apabila ditimpa musibah, ia bersabar. Maka itu merupakan kebaikan bagi dirinya.” ( HR Muslim & Ahmad ).

3. Berikanlah yang terbaik , Be The Best Not Be Asa !

Sebaik apa pun yang kita berikan – seperti waktu, tenaga, pikiran, dan harta – untuk mengabdi kepada Allah sebagai bukti menyambungkan kasih sayang kepada-Nya, maka semua itu tidak pernah mampu membalas apa kasih sayang Allah kepada kita. Wajar sekali, jika Allah, mengulangi kalimat “Arrahmanirrahim”. Dan sebanyak apa pun rahmat yang kita terima di dunia ini, itu hanya sepersekian dari satu persen nikmat-Nya. Dan sebaik dan sebanyak apa pun yang kita berikan kepada manusia, itu tak mampu menggerakkan manusia untuk membalas kebaikan kita tanpa bantuan Allah SWT. Allah-lah yang membukakan hati manusia untuk membalas atas kebaikan kita ( silahkan baca QS. Al-Anfal (8) : 63).

Kunci, sobat adalah minta bantuan kepada Allah SWT. Apabila hubungan kita dengan Allah sudah harmonis, Isya Allah, kita kan mudah berhubungan dengan manusia. Sebaliknya, bila hubungan kita dengan Allah terputus, kita akan sulit harmonis dengan manusia, bahkan dengan diri kita sendiri, kita tidak harmonis. Lantas, bagaimana kita melejitkan potensi diri, jika diri kita berantakan? Langkah praktis prinsip ketiga ini adalah : Pertama, Bila selama ini kita lalai melaksanakan kewajiban kepada Allah, misalnya sholat lima waktu, cepatlah bertaubat. Setelah sholat wajib itu kita perbaiki, lakukan sholat istikharah, yaitu sholat dua rokaat untuk meminta sesuatu kepada Allah, terutama sesuatu yang membingungkan kita, Bertanyalah dan mintalah kepada Allah, cara melejitkan potensi diri. Insya Allah, dengan cara-nya, Allah akan menjawab pertanyaan dan permintaan kita; Kedua, setelah kita berbicara dengan hati nurani dan minta kepada-Nya, berdiskusilah dengan orang yang paling anda percayai, mentor anda atau guru anda. Ceritakan keinginan anda untuk melejitkan potensi diri dan mintalah pendapatnya. Dan buatlah rencana untuk menjalin hubungan lebih erat kepada Allah dan sesama manusia.

4. Visioner, jadikan akherat sebagai impian.

” Maliki yaumi addin ” ( Yang menguasai hari pembalasan ). Ini adalah prinsip lebih dahsyat daripada prinsip ”merujuk pada tujuan akhir” milik Stephen R. Covey. Allah SWT mengajak kita untuk membayangkan ”yaumi ad-din” ( hari pembalasan ), semakin jelas hari pembalasan itu dalam hati dan pikiran kita, maka hidup kita akan semakin baik. ”Barangsiapa menjadikan akherat sebagai impiannya,” pesan rasulullah SAW dalam kesempatan lain, ”Allah akan menjadikan kekayaan dan rasa cukup dalam hatinya, mengumpulkan yang tercerai-berai darinya dan dunia mendatanginya dalam keadaan hina. Dan barangsiapa menjadikan dunia sebagai impiannya, Allah akan menjadikan kefakiran di hadapannya, mencerai-beraikan urusannya dan dunia tidak datang kepadanya, kecuali yang telah disempitkan kepadanya.”

Sobat, cara Al-Qur’an dan hadits mengajak kita membayangkan Hari akherat bahwa tangan, kaki,telinga, mata, kulit kita akan berbicara; jadi saksi atas semua perbuatan kita di hadapan Allah SWT. ( silahkan baca QS Yasin ayat 65 atau Fushshilat ayat 20 dan 21). Visualisasi berpusat kepada Allah ini lebih menyentuh hati dan menggerakkan jiwa untuk berbuat baik. Nah jika kita mampu membayangkan semua kejadian di akherat nanti, lalu mengapa kita tidak mampu membayangkan impian hidup kita beberapa tahun yang akan datang? Ingat sobat, salah satu ciri orang sukses adalah dapat melihat sebelum segala sesuatu itu terjadi. ( orang yang Visioner )

5. Temukan Potensi dan Peluang diri.

” Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in ” ( Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan) – Ini adalah sebuah penguatan terhadap diri agar kita hidup mandiri. Pengakuan untuk menyembah dan minta tolong, sebuah isyarat bahwa betapa lemahnya kita dihadapan Allah SWT. Semakin kita merasa lemah di hadapan-Nya, rasa ketergantungan terhadap-Nya juga akan semakin besar. Kita pun semakin banyak beribadah kepada-Nya. Ibadah itu akan mengembangkan seluruh potensi diri kita. Buahnya adalah kekuatan diri. Kemudian potensi diri ini kita arahkan untuk menjadi rahmatan lil ’alamin. Makna rahmatan lil ”alamin adalah ketika kita mampu memberikan manfaat kepada manusia dan inilah manusia yang paling Allah cintai. Maka jika makna surah al-Fatihah ayat 5 kita hayati betul, maka akan muncul sifat tawadhu’ ( silahkan baca QS Al-Furqan ayat 63 ). Orang tawadhu’ adalah orang yang melihat dirinya secara objektif; apa adanya tanpa imbuhan. Mereka tidak menutupi kelebihan dan kekurangan dirinya. Dengan kalimat lain orang tawadhu’ adalah orang yang mensyukuri kelebihannya dengan cara memberikan apa yang ia miliki untuk membantu orang lain dan bersabar atas kekurangan dirinya dengan cara belajar dari siapa saja yang memiliki apa yang ia butuhkan. Langkah praktisnya anda bisa melakukan Analisa SWOT ( Strength – kelebihan – Weakness – Kekurangan – Opportunity – Kesempatan – Treatment – Rintangan ) diri Anda. Simpan hasilnya, nanti akan anda butuhkan sebagai bahan melaksanakan langkah praktis prinsip selanjutnya.

6. Merumuskan cara meraih Impian.

”Iman itu bukan sekedar angan-angan kosong, bukan buah bibir,” Tapi tertancap dalam hati dan dibuktikan dengan tindakan.” tutur Rasulullah Muhammad SAW dalam hadits yang diceritakan oleh Ad-Dailami. Hal ini menegaskan kepada kita, sebuah impian harus ada tindakan nyata untuk meraihnya. Dalam bertindak kita perlu juknis atau juklak. Petunjuk dalam bahasa Al-Qur’an adalah ”hidayah”. Disinilah surah al-Fatihah ayat 6 : ”Ihdinash shirath al-mustaqim” ( Tunjukilah kami jalan yang lurus ) Ya untuk meraih impian surga kita butuh petunjuk ”jalan lurus” itu tidak lain adalah Islam. Islam diturunkan oleh Allah di muka bumi ini untuk menjadi petunjuk bagi manusia dalam menjalani hidup ini. Ajaran Islam begitu canggih dalam menjelaskan cara untuk meaih impian surga. Islam mengajarkan kita untuk membuat misi pribadi berupa dua kalimat syahadat. Lalu , disusul dengan sasaran target – baik yang wajib maupun sunnah – yang berskala waktu seumur hidup (haji), tahunan ( Shaum dan zakat fitrah), bulanan ( Puasa 13,14 dan 15 bulan hijriyah), mingguan ( Sholat jum’at ; shaum senin-kamis ), harian ( sholat lima waktu), pagi dan sore bahkan skala detik ( Dzikir). Nah, bila kita mampu menjalankan ajaran Islam itu dengan baik, maka akan lebih mudah lagi dalam mengelola hidup dan merencanakan masa depan. Karena semua ajaran Islam mengajak kita untuk hidup disiplin, membangun berbagai karakter baik dalam diri kita, seperti hidup bersih, komitmen, integritas, disiplin, dst. Langkah praktis prinsip ke-enam adalah gabungkan hasil langkah prinsip 5 dan 6 dalam bentuk naskah hidup yang tertulis di atas kertas atau buku agenda. Dari semua yang telah anda visualisasikan pada prinsip 5 simpulkan dalam satu kalimat yang pendek, jelas dan menggugah. Inilah yang disebut Visi. Selanjutnya terjemahkan visi dalam tujuan hidup anda secara global, atau sering kita sebut dengan misi. Anda buat pernyataan misi pribadi. Lalu terjemahkan visi dan misi itu dalam bentuk target hidup baik secara pribadi maupun sosial. Dari sana, buatlah cetak biru (blue print) hidup yang menggambarkan keinginan anda dalam kurun waktu tertentu.

7. Belajarlah dari Pengalaman.

Dari prinsip 1 sampai 6 terfokus pada diri-sendiri, sekarang mari kita keluar untuk melihat apa yang terjadi pada orang lain atau belajar dari pengalaman orang yang mendahului kita. ” Shirathalladzina an’amta ’alaihim, ghairil maghdhubi’alaihim wa ladhdhallin” ( Yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.) Allah menceritakan tentang jalan orang yang mendapatkan nikmat Allah, yaitu jalan para Nabi, ash-shiddiqin, asy-syuhada, dan ash-shalihin ( Silahkan baca QS An-Nisa (4) : 69 ) inilah jalan keimanan. Lalu Allah menceritakan jalan orang yang mendapat murka Allah SWT dan yang sesat. Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Rasulullah SAW menegaskan bahwa yang dimaksud dengan ”almaghdubi” ( yang dimurkai Allah ) adalah orang yang mengetahui kebenaran, tapi tidak mau mengamalkannya. Dan ”adhdhallin” ( Yang sesat ) orang yang mengamalkan sesuatu tanpa mengetahui kebenarannya. Sebagaimana yang disebutkan di atas, jalan kebenaran ; Islam hanya satu, begitu juga jalan Iman itu tunggal sedangkan jalan menuju kekafiran itu sangat banyak. Dalam hal keimanan, mau tidak mau kita harus belajar dari pengalaman orang yang Beriman, Karena Allah telah berlepas tangan dari orang kafir dan memberikan sifat ”ar-rahim”-Nya hanya kepada orang beriman saja. Adapun untuk kesuksesan duniawi, kita mempelajari pengalaman siapa saja, meskipun dari orang kafir. Karena sifat ”ar-rahman” Allah SWT tidak membedakan antara orang beriman dan orang kafir. Maka sekalipun orang beriman, tapi jika malas belajar, ia akan bodoh; sedangkan sekalipun orang kafir, jika ajin belajar, ia akan cerdas. Di sini, hukum kausalitas berlaku. Apabila orang kafir banyak mencoba, setelah sekian kali gagal maka mereka akan menemukan cara sukses. Nah, cara sukses yang ditemukan oleh orang kafir ini adalah hikmah yang hilang dari orang yang beriman.

Rasulullah SAW bersabda ; ” Hikmah itu adalah barang yang hilang milik orang yang beriman. Di mana saja ia menemukannya, maka ambillah.” (HR Tirmidzi).

Langkah praktis prinsip ketujuh adalah pelajari pengalaman hidup orang yang sukses dan orang yang gagal, baik dalam urusan duniawi maupun ukhrawi! Sebelum mempelajari yang lain, yang pertama dan utama adalah pelajari sejarah perjalanan (Shirah) Nabi Muhammad SAW sebab beliau adalah profil orang yang sukses dunia dan akherat yang menjalankan ajaran Al-Qur’an, setelah kita benar-benar memahami seluruh kehidupan Nabi Muhammad SAW, baru pelajari kisah-kisah yang ada dalam Al-Qur’an, baik kisah para nabi dan rasul maupun kisah para musuh Allah SWT. Setelah itu, pelajari para tokoh-tokoh dunia, baik zaman dulu maupun zaman kini. Pelajari sebab-sebab kesuksesan dan kegagalan mereka, baik berhubungan dengan diri mereka sendiri, keluarga, masyarakat, negara, maupun situasi zaman. Inilah sobat 7 prinsip melejitkan potensi diri dengan surah Al-Fatihah.

Sobat mari kita terus belajar, belajar, dan terus belajar. Terutama mempelajari Al-Qur’an.

Salam Dahsyat Dan Luar Biasa ! Never Give Up !

About Boby Riswandi

Aku Adalah Insan yang ingin bermanfaat bagi umat, ingin berkontribusi dalam dunia Islam melalui tulisan dan berjuang bersama barisan para mujahid. Sebarkan semua artikel yang ada di "tempatdakwah" insya Allah berbuah pahala, karena Rasulallah bersabda: “Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat” (HR. Bukhari) “Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk, maka baginya ada pahala yang sama dengan pahala orang yang mengikutinya dan tidak dikurangi sedikitpun juga dari pahala-pahala mereka.” (HR.Muslim) Barakallahu fik.

Diskusi

One thought on “7 Prinsip Dasar Surat Al-fatihah

  1. “” Gerakkan Baca Al-Qur’an Di Bumi Indonesia Yang Tercinta “”

    Posted by Budi Mulyo | Oktober 11, 2011, 1:42 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buku Harun Tsaqif (Ceo dan Founder Tempat Dakwah)

http://haruntsaqif.blogspot.com/

Artikel Lainnya

Sukai Halaman ini

Like This Blog

%d blogger menyukai ini: